Rumah Dunia: Suaka Para Pemimpi

“Kalau bukan karena mimpi, orang seperti kita ini sudah mati, Kal! ~ Arai, Sang Pemimpi

Kalau kamu terlahir dari bapak seorang kuli bangunan. Ibu kuli cuci. Tumbuh besar di kawasan pinggiran kota Jakarta. Memangnya apa yang berhak kamu impikan? Seandainya sedari kecil saya tidak dianugrahi kegemaran membaca buku-buku cerita anak… Entah lah. Mungkin saya tak akan berani bermimpi yang muluk-muluk. Semisal mengangankan menjadi presiden, filsuf besar, atau CEO sebuah perusahaan kredit panci multinasional. Baca lebih lanjut

Iklan

Pemburu Hujan

Bukan maksud hati mengekor syahrini.com, namun buat saya, hujan memang sesuatu… Semasa kanak-kanak, saya kemana-kemari mencari hujan… Memburunya. Tak lelah-lelah. Tak jemu-jengah. Di mana… di mana… hujan di mana? Semoga yang kutemukan bukan hujan palsu. (Baik lah, kali ini saya tak kuasa mengelak, memang agak sedikit #terayutingting ya, pemirsah! Wkwkwk.) Baca lebih lanjut

i beg you!

Hadiah, lazimnya diberikan kepada pemenang, kepada yang kita kagumi/hormati dan tentu saja kepada yang kita sayangi. Hadiah diperoleh dengan cuma-cuma, tanpa pengorbanan materi (apalagi perasaan, hehehe). Biasanya kita akan mendapat hadiah di hari ulang tahun, hari raya, dan ketika kita berprestasi. Keunikan lain dari hadiah adalah unsur kejutannya. Seseorang akan membiarkan kita menerka-nerka, apa isi dari kado yang dihias manis berlambang hati itu. *uhuk* Baca lebih lanjut

Ada Apa di Balik Jendelamu?

Selewat, keberadaan jendela itu serupa buah melinjo pada sayur asem. Kebanyakan orang tidak memakan buah-buah melinjo ini. Lalu kenapa sih masih saja ada buah melinjo dalam sayur asem? Bikin ribet doang! Di Jakarta, karena keterbatasan lahan, banyak rumah-rumah tanpa jendela. Terbukti jendela bukan bagian primer dari sebuah bangunan. Lantas kenapa ya, harus ada jendela? Baca lebih lanjut

Kanak-Kanak dan Bebek-Bebek

“Hidup hanya menunda kekalahan. Tambah terasing dari cinta sekolah rendah.” ~ Chairil Anwar

 

Bagi kebanyakan masyarakat pinggiran kota Jakarta, sedikit sekali dari kami yang dapat mengenyam pendidikan formal jenjang Taman Kanak-Kanak. Penghasilan para orang tua hanya cukup untuk membeli beras, ikan asin, sambal terasi. Satu dus indomie itu sudah sebuah kemewahan. Maksud hati mendaftarkan anak-anaknya ke Taman Kanak-Kanak yang ada di komplek seberang kampung, apa daya para orang tua hanya mampu mengirim kami ke rumah Pak Dalin, seorang alim ulama, untuk belajar mengaji.

Tetapi kami kanak-kanak, anda tidak perlu khawatir wahai orang dewasa. Kami selalu bisa menemu-ciptakan taman bermain kami. Baca lebih lanjut

Memaknai Kehilangan

Memaknai Kehilangan

Hilang. Barangkali ini adalah kata yang paling tidak kamu sukai. Coba kamu ambil sebuah kertas putih. Lalu tuliskan kata “hilang” pada kertas putihmu itu. Biarkan dia sendiri, tanpa kata-kata yang lain. Lihat, betapa NELANGSA dan menyesakkannya kata HILANG itu, bukan?
Tetapi kawan…, selain kengerian, kenyerian, kepahitan dan kegetiran; kehilangan juga menawarkan kepada kita kearifan. Kehilangan adalah pil pahit. Jamu.
Pada kemasan jamu, biasanya dituliskan apa saja khasiat yang akan kita peroleh. Berikut ini adalah sederet khasiat (baca: kearifan) dari jamu bernama kehilangan. Baca lebih lanjut

Saya Hampir Mati, Saat Sekonyong-konyong Timeline…

Saya Hampir Mati, Saat Sekonyong-konyong Timeline…

Anda tidak sedang membaca sebuah drama. Judul esai ini adalah yang sebenarnya terjadi pada hidup saya. Ada titik zenith. Ada pula titik nadir… Batas antara sang pemenang dan si pecundang amat tipis, Sobat. Percayalah. Setiap detik keputusan yang kamu ambil bisa membuat kamu melesat dahsyat atau sebaliknya tergelincir getir hingga ke palung kenistaan. Baca lebih lanjut