Rumah Dunia: Suaka Para Pemimpi

“Kalau bukan karena mimpi, orang seperti kita ini sudah mati, Kal! ~ Arai, Sang Pemimpi

Kalau kamu terlahir dari bapak seorang kuli bangunan. Ibu kuli cuci. Tumbuh besar di kawasan pinggiran kota Jakarta. Memangnya apa yang berhak kamu impikan? Seandainya sedari kecil saya tidak dianugrahi kegemaran membaca buku-buku cerita anak… Entah lah. Mungkin saya tak akan berani bermimpi yang muluk-muluk. Semisal mengangankan menjadi presiden, filsuf besar, atau CEO sebuah perusahaan kredit panci multinasional.

Alangkah beruntungnya, semasa kanak-kanak saya rakus membaca. Mulai dari tumpukan koran dan majalah bekas di warung Emak, sampai seluruh uang saku, yang besarannya hanya Rp.200,- saya habiskan untuk menyewa empat buku cerita anak setiap harinya dari perpustakaan SDN Rawa Bebek 1, Bekasi Barat. Saya rela berlapar-lapar dan menahan dahaga, demi untuk secepatnya sampai di rumah, menutup rapat-rapat pintu kamar, dan mulai melahap empat judul buku cerita anak. Karena kegemaran membaca ini, maka selaut mimpi-mimpi ada di benak saya.

Menjadi bagian dari Rumah Dunia, semakin memperkuat kesadaran saya, bahwa apa pun mimpi-mimpi sekarang ini, semua itu bermula dari buku-buku cerita anak yang saya baca.

Banten dan Rumah Dunia
Saya sekeluarga memutuskan hijrah ke Serang – Banten, dalam kondisi saya yang sudah putus sekolah (hanya sampai kelas dua SMP). Banten, sebuah negri dengan legenda angker santet dan jawaranya. Sama sekali tak terbersit di benak saya bahwa kehidupan akan jadi lebih membaik.

Seorang saudara di Jakarta menasehati: “Elu mah, orang-orang pada berebut dateng ke Jakarta, nyampe pada jual kebonnya di kampung! Nah elu udah enak-enak punya tanah di Jakarta, malah ditinggilain!” Tetapi Emak punya pertimbangannya sendiri ketika itu. Hingga akhirnya, masih dalam suasana kerusuhan Mei 1998, dini hari yang mencekam, kami menjejakan kaki di Desa Cisaat, Kecamatan Padarincang, Serang – Banten. Kebetulan atau rencana cantik Tuhan, kalau tak salah mengingat, kepindahan saya ke Banten bertepatan dengan hari lahir saya. Semacam kelahiran yang kedua bagiku. New life!

Kehidupan makin keras. Terlebih ketika Emak memutuskan berangkat ke Jazirah Arab, menjadi TKW. Saya dikondisikan sudah harus mencari makan dan biaya sekolah sendiri. Namun dugaan akan masa depan yang suram nyatanya meleset. Tuhan punya skenarionya. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang menjadi “Tangan Tuhan” untuk saya.

Di Padarincang, ada Pak Syair Asiman yang kala itu masih seorang mahasiswa dan wartawan di Banten Ekspress. Pak Syair ini banyak membantu keluarga saya. Dia pula orang pertama yang meminta saya untuk menulis di media massa. Atas campur tangannya, dua buah reportase saya dimuat di Fajar Banten dengan honor Rp40.000,- per tulisan. Saya menumpang di rumah Pak Syair selama di Padarincang. Sebuah perumahan RSS yang disesaki koleksi buku-buku.

Semasa di SMUN 1 Serang, di saat saya kebingungan mencari tempat tinggal, Tuhan tak habis rencana buat saya. Ada Pak Babay dan keluarga yang membukakan pintu rumahnya sebagai tempat saya bernaung selama menuntut ilmu di Serang.

Menjadi anak asuh yang biaya makan, sekolah dan uang sakunya sudah ditanggung, tidak membuat saya jadi bersantai. Saya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuer di sekolah. Tak cukup berkegiatan di sekolah, saya melamar menjadi wartawan magang di rubrik Gaul, Harian Banten.

Jodoh saya di dunia kepenulisan dilempangkan melalui perkenalan saya dengan Adkhilni MS, yang akrab dipanggil Aad, seorang anak yang benar-benar gesit dan selalu menginspirasi saya dengan energi kreatifnya yang laksana zam-zam, tak habis-habis, mengucur deras! Bersama Aad dan kawan-kawan lain di SMUN 1 Serang kami mengikuti program Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) cabang kota Serang yang didanai oleh Majalah Sastra Horison dan Ford Foundation.

SSSI Serang ini dikelola oleh Toto ST Radik, lagi-lagi, orang yang juga punya andil besar dalam memupuk karakter kepenulisan saya. Para pengajar tamu yang didatangkan Mas Toto juga tak kalah memukau. Nama-nama seperti Wan Anwar dan Herwan FR sukses membuat saya semakin jauh mengagumi dunia kepenulisan.

Perjumpaan yang lebih dalam lagi mempengaruhi hidup saya adalah Rumah Dunia yang digagas Gola Gong. Semangat berbagi, kebersahajaan hati dan keteguhan dalam mewujudkan mimpi di komunitas ini membuat saya nyaris tak pernah absen dalam program Kelas Menulis Rumah Dunia.

Banten dan Rumah Dunia adalah perpaduan yang unik. Kesan angker tanah Jawara berpadu cantik dengan upaya melahirkan sebuah generasi baru para jawara di Banten. Bukan lagi jawara dengan otot, tapi dengan otak. “Simpan golokmu, asah penamu!” demikian semboyan Mas Toto ST Radik.

Saya Bukan Relawan, Hanya Pencari Suaka
Rumah Dunia, tidak ada namanya relawan. Nama yang beken ketika itu volunteer (sounds cool, right?), hehehe. Volunteer di Rumah Dunia bukanlah relawan biasa. Percayalah! Sebab sebenarnya, semula mereka tidak benar-benar berniat menjadi relawan. Mereka yang datang ke Rumah Dunia sejatinya ingin menguras tuntas ilmu kepengarangan dari Mas Gola Gong.

Sepengetahuan saya, Mas Gong sendiri kerap menolak orang yang terang-terangan datang ke Rumah Dunia ingin menjadi relawan. Mas Gong hanya akan menerima orang yang datang ke Rumah Dunia untuk belajar menulis. Setelah menyelesaikan Kelas Menulis selama tiga bulan, barulah Mas Gong yang akan menilai dan mempertimbangkan, jika ada peserta Kelas Menulis yang ingin mengabdikan dirinya di Rumah Dunia.
Relawan di Rumah Dunia ada yang “full time” dan ada yang part time. Relawan “full time” adalah kawan-kawan yang menjadi kuncen di Rumah Dunia. Sehari-hari mereka tinggal di mes relawan dan menjadi ujung tombak kegiatan di Rumah Dunia. Sementara saya, dan beberapa kawan yang lain mungkin, adalah relawan part time, yang datang sewaktu-waktu saja untuk berkegiatan di Rumah Dunia.
Melihat background dan motivasi awal ke Rumah Dunia, sebenarnya sebutan relawan itu terlampau gemerlap untuk saya. Di Rumah Dunia, saya kerap datang dan pergi. Bukan lagi part time, istilah yang lebih tepat untuk saya adalah “relawan musiman”. Kedatangan saya di Rumah Dunia pun tak melulu dalam kondisi yang sehat. Seringkali saya datang dalam kondisi ‘sakit’; kondisi ketika saya kehilangan gairah dan motivasi untuk menulis. Semacam proses rehabilitasi. Mendapatkan kembali pencerahan dan semangat dari Mas Gong dan kawan-kawan relawan di Rumah Dunia.

Sampai saat ini saya merasa lebih banyak yang telah Rumah Dunia berikan untuk saya, ketimbang yang bisa saya abdikan untuk Rumah Dunia.
Kalau diingat-ingat lagi, kedatangan awal saya ke Rumah Dunia semacam pencari suaka. Ada pameo mengatakan, orang miskin dilarang bermimpi! Maka itu saya datang ke Rumah Dunia. Sebuah komunitas yang membolehkan, melindungi, menganjurkan, lebih dari itu menyemangati dan menginspirasi semua orang untuk bisa bermimpi dan mewujudkannya!

Menggempakan Potensi Diri di Rumah Dunia
Sebagai alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama, saya menjadi saksi lahir dan tumbuhnya generasi baru di Rumah Dunia. Banyak kawan-kawan relawan Rumah Dunia yang semula bekerja sebagai tukang gorengan, pengamen jalanan, pemulung, penjaja krupuk mie, pedagang roti jablay, kini telah mampu membuka jalan menuju cita-citanya. Mereka kini telah ada yang menjadi mahasiswa dan wartawan.

Sebagaimana saya sendiri, yang semula hanya remaja putus sekolah, terdampar ke negri antah berantah bernama Banten. Berbekal kerakusan membaca sewaktu kanak-kanak, kemudian mendapatkan tempat “berlindung’nya di Rumah Dunia, kini saya telah mengecap pendidikan tinggi di jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Bukan hanya itu, saya juga sukses menelurkan sepuluh judul novel populer yang diterbitkan GagasMedia dan Bentang Pustaka (2006 – 20010).

Salah satu prestasi saya, yang membuat Emak saya menangis bahagia, adalah ketika saya berhasil meraih predikat “Unicef Award for Indonesian Young Writers” (2004). Emak tak kuasa membendung air matanya, ketika saya diwawancarai oleh Virzie Baker, live dalam acara Lunch Break MetroTv. “Anak gua ganteng juga ya, kalo udah masup tipi.” begitu kata Emak, sambil menyeka air matanya.

Sekali waktu, saya kerap didaulat menjadi tutor kelas menulis atau sekadar memberikan testimoni mengenai proses kreatif saya kepada relawan dan peserta Kelas Menulis Rumah Dunia. Saya selalu menikmatinya. Ada semacam perasaan yang membuncah di hati saya: “Aaahhh, akhirnya, ada juga yang bermanfaat dari diri saya untuk sesama…”.

Apa yang tengah dan akan terus berlangsung di Rumah Dunia, menurut saya terwakili oleh kutipan Bung Besar berikut ini: “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, menggelorakan samudra, agar tidak menjadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa pekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli, bangsa yang rela hidup menderita demi pembelian cita-cita.” (Soekarno).

Ya, Tuan dan Puan, di Rumah Dunia orang miskin telah terbukti bisa bermimpi! Di Rumah Dunia, kami yang masih papa punya kesempatan menggempakan potensi diri melalu literasi! (*)

Serang – Jakarta, September 2011

 

NOTE: Hari ke-15 #15harimenulisdiblog. Esaiku ini termuat juga dalam antologi esai “Relawan Dunia” yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

Iklan

2 thoughts on “Rumah Dunia: Suaka Para Pemimpi

  1. terima kasih kunjungannya, kaka tomat. hari ini saya mau merampungkan tema #pernikahan. tema ini akan jadi semacam ajang curcol. semacam cv atau proposal untuk siapa pun dia di luar sana yang berjodoh denganku. hahaha.

  2. saya benar-benar terharu, sekaligus bangga membacanya. Jangan lupa nikah, lalu memproduksi anak semampu yang dikuasakan Allah. Itu yang terpenting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s