Pemburu Hujan

Bukan maksud hati mengekor syahrini.com, namun buat saya, hujan memang sesuatu… Semasa kanak-kanak, saya kemana-kemari mencari hujan… Memburunya. Tak lelah-lelah. Tak jemu-jengah. Di mana… di mana… hujan di mana? Semoga yang kutemukan bukan hujan palsu. (Baik lah, kali ini saya tak kuasa mengelak, memang agak sedikit #terayutingting ya, pemirsah! Wkwkwk.)

Barangkali hanya Inem dengan urusan jemur-menjemurnya dan Kang Sobari dengan gerobak es dawetnya, yang tak bisa akur dengan hujan. Selebihnya, segala hal menjadi istimewa dilakukan saat hujan. Menyeruput sepoci teh, secangkir kopi, atau sepasang…, eh maaf, segelas susu maksud saya, paling nikmat di saat hujan, bukan? Apalagi ditemani sebuah novel tebal dari pengarang favorit. Sesekali mencuci mata, mengalihkan pandangan ke jendela, ada peri-peri hujan yang berterjunan menggodamu. Lalu sekonyong-konyong kekasih kita datang, membawa sepiring kentang goreng atau selusin donat. Hmm… Mantap! *lap iler*

Penyajak dan pengarang, tak perlu ditanya, mereka lah yang paling bersukacita, berpesta pora menyambut hujan! Waktunya memanen tiba! Sebab benih-benih ide tumbuh subur, seperti kata pepatah, bak cendawan di musim penghujan!

Pada sebuah cerita, hujan kerap digunakan untuk mengentalkan setting dan emosi. Bayangkan saja adegan ciuman di tengah hujan…akan terasa lebih…BASAH! Hahaha. Lalu pernahkah kamu membaca atau menonoton adegan pembunuhan ketika hujan? Waspadalah kawan, pembunuh berdarah dingin itu akan beraksi malam ini, dan dia dapat menghabisimu tanpa ada orang lain yang tahu! Karena jeritanmu tertelan oleh derasnya hujan dan gencarnya guntur menyambar. Jejak-jejak kematianmu pun akan segera terhapus, mengalir ke dalam got-got kelam bersama air hujan. Esok pagi, tak ada seorang pun yang akan menemukanmu. Bahkan, setahun kemudian, tak ada yang mengingatmu pernah ada! JENG JENG…!

Seandainya kita masih kelewat lugu. Dan tak pernah tahu asal-usul kemunculan bayi. Saya pasti akan langsung percaya, jika seseorang sekonyong-konyong membisiki bahwasanya saya terlahir dari sepasang bulir hujan yang bercinta rintih-rintih di sebuah pagi paling jernih. Sebab saya selalu jatuh hati pada pagi dan hujan. Pada pagi penghujan. Maka perkenalkan lah Tuan dan Puan, saya endang rukmana, lelaki yang mengutil, eh, memburu hujan! JENG JENG…! *benerin sarung*

 

note: #15harimenulisdiblog, hari ke-11, #hujan

Iklan

2 thoughts on “Pemburu Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s