Ada Apa di Balik Jendelamu?

Selewat, keberadaan jendela itu serupa buah melinjo pada sayur asem. Kebanyakan orang tidak memakan buah-buah melinjo ini. Lalu kenapa sih masih saja ada buah melinjo dalam sayur asem? Bikin ribet doang! Di Jakarta, karena keterbatasan lahan, banyak rumah-rumah tanpa jendela. Terbukti jendela bukan bagian primer dari sebuah bangunan. Lantas kenapa ya, harus ada jendela?

Kenapa tidak sekalian saja dibuat pintu (tambahan)? Sebagai jalan keluar masuknya udara dan cahaya, katamu? Bah! Apa bedanya dengan lubang udara? Kenapa dibutuhkan kata jendela? Tidak cukup kah kitanya menyebutnya sebagai “lubang udara” atau “lubang cahaya”?

Kalau tujuan pembuatan jendela hanya untuk keluar-masuk udara, niscaya Raksasa IT Dunia, Microsoft, tidak akan memilih “windows” sebagai nama perangkat lunak komputer andalannya. Saya amat yakin, alasan utama nenek moyang kita menambahkan jendela pada rumahnya bukan untuk tujuan keluar masuk cahaya dan udara, melainkan untuk memonitor situasi dan kondisi di luar persembunyiannya. Jendela adalah solusi dari ketakutan sekaligus keingintahuan kita pada sesuatu di sebalik jendela.

Jendela mampu menghadirkan suasana atau emosi tertentu dalam sebuah cerita. Bisa ceria, muram, bahkan seram! Sekarang, mari kita lihat, ada pa di balik jendelamu? ^_^

Ada sesuatu… (#tersyahrinidotcom)

Jika posisimu strategis dan nasibmu mujur, kamu bisa melihat Inem tengah menjemur pakaian. Bajunya basah! *lap iler* Kalau lagi apes? Sila dinikmati kandang ayamnya, kakaaa. Wkwkwk.

Ada Sang Pangeran Berkuda Putih

Eciyeee. Eciyeee. Hahaha. Jendela memang menjadi media klasik cerita percintaan.

Ada kamu. Ada aku.

Di jendela hati kita. *uhuk*

Ada banyak kejutan, pengetahuan dan kearifan…

Cerdik cendikia menjuluki buku sebagai jendela dunia. Sekarang medianya bukan hanya buku, koran dan majalah. Sekarang ada internet. Ada jendela punya Mbah Google. Ada Wikipedia. Ada blog-blog temanmu yang menunggu kamu longok jendelanya. Ada twitter…tempat jendela-jendela berlalu-lalang!

Ada yang…”tak kamu undang”

Jendela bisa berperan sebagai setting film horror, thriller atau fantasy. Kamu tidak pernah tahu, siapa yang malam ini mengetuk-ngetuk daun jendelamu… Perampok? Pembunuh bayaran? Alien? Suster kayang? Oh…, ternyata Inem. “Ada obeng, Kang?” *ajak masuk* :-p

Ada…”tak ada apa-apa dan sesiapa” (lalu sekonyong-konyong matahari terbit dari barat)

Singkat saja. Segeralah kau bertobat sebelum hari itu tiba, Anak Muda! :-p

Barangkali peran jendela akan tergantikan oleh CCTV—dan pada pemaknaan yang lebih konotatif oleh internet. Mungkin yang masih bertahan adalah kegunaannya sebagai aksesori keindahan rumah dan sirkulasi udara. Namun yang tidak akan pernah tergantikan dari sebuah jendela adalah fungsi puitiknya. “hujan rintih-rintih” (judul antologi puisi aan mansyur) yang setia kita pandangi dari jendela. *mendadak galau*

note: dear kaka tomat – pernahkah kau terpikir, suatu pagi akan terbangun dan mendapati dirimu ada di sebuah negri tanpa…, bukan, bukan tanpa jendela, tetapi sebuah negri tanpa pintu? yang ada hanya jendela-jendela. ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s