Alhamdulillah Ya…, Malam Minggu Ini

Alhamdulillah Ya…, Malam Minggu Ini

Memang baru jam lima sore. Namun bulu kuduk saya sudah siap tempur. Sekonyong-konyong tercium bau-bau kenangan. Sesekali berkelebat…bayang-bayang penolakan! Ugh! Untuk survive melewati malam ini, saya harus sudah mengantisipasi segala kemungkinan ter-horror! Baca lebih lanjut

Iklan

Ciuman Pertama dan Pencapaian Puitik Saya

Ciuman Pertama dan Pencapaian Puitik Saya

Oleh Endang Rukmana

Tinimbang genre penulisan lain-lainnya, puisi adalah yang paling jarang saya gumuli. Bah! Gumuli? Lebih tepatnya: yang amat jarang saya sambangi! Kalau boleh jujur, meski sewaktu SMA saya berhasil menerbitkan antologi puisi saya berjudul “Hanoman Mencari Cinta”—dan beberapa di antaranya pernah singgah di rubrik Kaki Langit Majalah Sastra Horison—tak satu pun buku kumpulan puisi yang selesai saya baca! Saya baru kembali melirik puisi di twitter.
Entah lah, sedari dulu saya beranggapan kalau saya ini bukan orang yang mampu ‘terlampau dalam’. Kalau dimetaforakan dengan penggalan hari, saya ini tipikal lelaki pagi, bukan si senja yang puitik dan malam yang penuh perenungan. Pemikiran ini yang kemudian membuat saya di jenjang perguruan tinggi lebih memilih jurusan ilmu sejarah tinimbang jurusan filsafat. Bisa jadi pemikiran ini pula yang kemudian menjatuhkan pilihan saya lebih menekuni genre penulisan novel populer. Baca lebih lanjut