Polling, Polling! Ayo Diisi ;-D

Belajar Menjadi Lelaki Dari Balada Si Roy

ROY, AJARI AKU!

Catatan ringan Oleh Endang Rukmana*)

endang duduk“Mau avounturir, kayak Si Roy!” ujar Zhajang.
Maka suatu pagi di kota Serang, Zhajang Lili Charli sudah nangkring di atas sepeda yang baru kemarin dia beli dari pasar loak. Bersama Adkhilni MS, yang juga sudah siap dengan sepeda kesayangannya, Zhajang akan bersepeda menempuh jarak sekitar 40 km menuju kawasan pantai di Selat Sunda. Mereka bermalam di pantai. Kedua kawan sekolah saya itu bercerita, baru saja menamatkan empat jilid Balada Si Roy. Akibatnya, mereka terjangkiti demam avounturir.

Saya jadi penasaran. Lalu mulailah saya berkenalan dengan “Si Roy” lewat kesepuluh jilid “Balada Si Roy” (karya Gola Gong yang pernah beken di majalah HAI). “Gawat brew!” seru batin saya, ketika menyadari roh dan spirit “Si Roy” seolah telah merasuki diri saya.

Sejak saat itu saya jadi senang melakukan perjalanan, dan begitu menikmatinya. Acap kali saya merasa diri tengah berperan sebagai Si Roy. Seperti beberapa waktu yang lalu di awal Juli, ketika saya menempuh perjalanan Serang-Bandung untuk suatu keperluan. Saya berangkat tengah malam dari Terminal Pakupatan dengan Garuda Pribumi, sebuah bus tak ber-AC.

Mulanya saya duduk seorang diri. Tetapi menjelang Balaraja, seorang gadis memilih untuk jadi teman seperjalanan saya. Dalam hati saya berbisik, “Cewek, Roy!”. Tak perlu saya ceritakan apa yang selanjutnya terjadi dengan kami berdua. Selama dua hari di Bandung, saya juga mengalami hal-hal baru yang menarik—terlalu makan halaman jika saya tuturkan. Lalu ketika pulang lagi ke Serang dari Terminal Leuwipanjang, lagi-lagi seorang gadis menjadi teman seperjalanan saya. Dan yang membuat lebih dramatis, di tengah perjalanan, gadis itu menangis terisak. “Ada cewek cantik nangis, Roy! Kenapa dia, Roy?” saya berbisik lagi.
Begitulah.

Si Roy, pemuda petualang, bertubuh atletis, rambut gondrong, rahang kukuh; dengan senyum nakal; dan sorot mata yang liar melebihi elang, tetapi di lain waktu sorot mata itu begitu sendu dan teduh seolah lautan; memang memilki daya pukau tersendiri bagi remaja di penghujung era 80-an saat itu. Sebab bukan hanya fisiknya, tetapi karakter dan langkah hidup yang ditempuh Si Roy memang macho! Terlebih—nampaknya—Si Roy benar-benar lahir dari pergolakan batin sang pengarang. Yang lahir dari hati, memang akan mendapat tempat di hati.

Hal lain yang perlu kita garis bawahi dari Si Roy, pada dirinyalah manusia dihadirkan secara utuh; tidak melulu putih, juga tidak melulu hitam. Dia berada di wilayah abu-abu. Berbuat dosa, lalu bertobat; berbuat dosa lagi, lalu bertobat lagi; dan begitu seterusnya. Sejujurnya, seperti itulah manusia. Saya mengiyakan, dan berkaca diri, saat membaca “Balada Si Roy”.

Jangan kaget, dalam kisah ini “Si Roy” begitu gampang bersinggungan intim dengan banyak perempuan, sehingga kita seolah mendapat kesan “Si Roy” adalah lelaki yang suka mempermainkan perasaan kaum Hawa. Namun kesan yang demikian akan segera menjadi kabur, saat kita pada kesempatan yang lain mendapati “Si Roy” begitu peduli, melindungi seorang ibu muda yang terancam kehilangan anaknya. Si Roy juga seorang anak yang sangat perhatian, hormat, serta penuh cinta dan kasih sayang pada ibunya. Wacana yang kontras, akan kita temukan dalam kisah ini.

Kini, setelah zaman bergulir menjauh, Roy hendak dihadirkan kembali. Hadir di era yang baru, di mana sebagian besar orang tengah larut menikmati euforia menyambut pergantian milenium. Ketika makhluk bernama internet dan ponsel sudah menjadi bagian lumrah dari kehidupan remaja ABG Indonesia.

Tentu saja “Si Roy” bukan anak zamannya lagi. Dia datang dari masa lampau. Lalu dengan demikian, apa fungsi sosial dihadirkannya kembali Balada Si Roy bagi kehidupan remaja saat ini?

Dari segi latar tempat dan waktu, Balada “Si Roy” boleh jadi sudah ketinggalan kereta. Tetapi problematika remaja dan semangat yang dimiliki “Si Roy”, masih sangat relevan, bahkan sedemikian dekatnya dengan apa yang dialami remaja saat ini.

Dalam hal ini, “Si Roy” datang dari masa lampau dengan membawa sebuah cermin bagi remaja Indonesia yang kini mulai tenggelam dalam hingar-bingar kehidupan hedonis. Bukan cermin sakti semacam kepunyaan Mak Lampir yang saya maksud. Tetapi sebuah cermin untuk belajar bagaimana semestinya menyikapi hidup; menentukan langkah; mencari jati diri; juga untuk memahami, bagaimana semestinya menjadi lelaki.

Menjadi lelaki bukan berarti harus sok jago, berkelahi, menganggap remeh orang lain, atau bergelandangan di jalanan. Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki; berani untuk mengalahkan rasa takut dan “gak pe’de”; berani untuk berbuat dengan akal sehat, dan berani pula untuk mempertanggungjawabkannya dengan kesadaran; berani untuk memulai sesuatu, dan berani pula untuk mengakhirinya dengan manis; juga berani untuk mencari, dan pada saat yang sama berani pula untuk kehilangan.

Memulai sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu, menuju ke kota-kota yang lain, dan melihat dunia baru, adalah menjadi lelaki. Hidup mandiri, tanpa melulu mengandalkan orangtua, adalah juga menjadi lelaki. Rela memberikan tempat duduk kita di atas angkutan umum yang penuh sesak kepada ibu hamil, orang cacat, dan para lansia, adalah juga menjadi lelaki. Tetap tegar dan confidence saat kehilangan sesuatu yang berharga (seperti Toni yang kehilangan sebelah kakinya, dan Iwin yang kehilangan sebelah daun telinganya), adalah juga menjadi lelaki.

“Balada Si Roy”, tidak hendak mengajarkan kita menjadi super hero seperti Old Shatterhand, James Bond, Gatot kaca, Wiro Sableng, juga tidak untuk menjadi “Si Roy”. Tetapi belajar menyikapi hidup, dan belajar menjadi lelaki, itulah yang akan kita (remaja) renungkan—dan akan kita lakukan—usai membaca buku karya Gola Gong ini. Majalah HAI pernah menulis Roy sebagai tipe “cowok jaguar”: jujur, kritis, peduli, independen, dan tetap manusawi. Dalam istilah Sheila On 7, Si Roy membagikan spirit pada kita “tuk jadi pejantan tangguh”.

Untuk cewek yang tidak ingin menjadi korban rayuan lelaki, dan untuk cowok yang hendak menjadi lelaki, “Balada Si Roy” dengan bahagia dipersembahkan. Sebagai pembaca, kita tentu akan lebih memahami bagaimana selayaknya menerapkan pepatah lama, “ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk”, tinimbang para maling sendal di tempat-tempat ibadah.

Akhirnya, saya ingin memulai sebuah langkah yang ringan, dan berkata, tidak penting untuk menjadi “Si Roy”; Namun, “how to be a man?!” itulah yang hendak dikatakan Si Roy!
Ajari aku, Roy!
***
Serang, Akhir Juli 2004
*) Penulis lahir di Jakarta 15 Mei 1984. Saat “Balada Si Roy” muncul di Majalah Hai pada Maret 1989, dia masih berumur 5 tahun. Limabelas tahun kemudian,
dia baru membaca “Balada Si Roy”. Dengan bersemangat dia bilang, “Semalam 5 buku! Sepuluh buku, dua malam!” Dia adalah peraih “Unicef Award for Indonesian Young Writers” (2004). Aktif berkegiatan di S3, SSRI Serang,
dan peserta “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan pertama.
Kini tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah UI angkatan 2004

Sakit 1/2 Jiwa: Udah Lucu Mulai Kata Pengantar

Lucu Mulai Kata Pengantar


oleh  Sukar

Rabu, 12-Juli-2006, 22:44:48

Malaria boleh dilawan pakai buah bagore. Panas dalam bisa dielak dengan selasih. Tapi, sakit di hati cuma satu obatnya: tawa! Pemicu tawa bisa macam-macam. Mulai lewat menggoda si looser sampai lewat baca buku. Contoh bukunya, Sakit ½ Jiwa karya Endang Rukmana, alumnus SMAN 1 Serang tahun 2004. Pada tahun yang sama ia meraih Unicef Award For Indonesian Young Writer.

Sore itu, Senin (10/7), penuh tawa kelima bookaholic DetEksi Jawa Pos. Wajah Meyta Minggar, Afif Candra Kusuma, Yerinda Aprilia, Lukman Hakim, dan Dhani Ratnaningtyas sama-sama cerah. Buku yang dibahas memang jago mengundang tawa.

“Dari awal baca kata pengantarnya saja, aku sudah terbahak. Kocak banget si Endang Rukmana itu. Guyonannya tak habis-habis,” ulas Yerinda.

Lukman membenarkan. Guyonan konyol di Sakit ½ Jiwa bahkan membuatnya senyum-senyum sendiri. “Ceritanya lucu. Justru karena tak masuk akal, buku ini jadi punya nilai plus,” sahutnya.

Lukman kemudian mengingatkan teman-temannya soal cerita di kala kakek yang selalu muncul di mimpi Bobi mengirim SMS. “Ada-ada saja deh. Kakek yang sudah meninggal kok bisa masih bisa kirim SMS dan e-mail,” ucapnya sambil geleng-geleng.

Afif setuju. Tapi, baginya, cerita di buku yang memanfaatkan foot note ala novel Adhitya Mulya ini nggak hanya penuh imajinasi. “Banyak tebakan lucunya!” seru pelajar SMKN 11 ini.

Dhani memutar obrolan soal banyolan di buku ini ke seting cerita yang baginya luar biasa. “Aku jadi ingin melihat langsung kehidupan suku Baduy.”

“Aku juga. Aku penasaran melihat langsung ritual khusus pernikahan ala suku Baduy,” timpal Afif.

Obrolan kemudian beralih ke karakter-karakter pengisi cerita ini. “Aku paling sebal sama tokoh Bobi. Apatisnya minta ampun. Ia juga suka memainkan perasaan perempuan,” cerca Yerinda.

Dhani merasa punya perasaan sama. “Meski punya wajah ganteng kayak Tora Sudiro, aku nggak bakalan mau jadian sama dia,” katanya.

Sebagai kaum cowok, Lukman membela Bobi. “Aku suka gaya pacaran mereka. Walau saling cuek, tapi tetap mesra. Salut sama Monda yang bisa nerima Bobi walau Bobi selingkuh beberapa kali,” ujar Lukman.

“Gaya pacaranku juga mirip sama mereka. Aku pernah ngejitak pacarku di depan umum. Begitu keras sampai dilihat banyak orang. Tapi, cewekku tak marah, dia mirip Monda yang sabar,” imbuhnya. *

http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2330

“Sakit 1/2 Jiwa” Cetak Ulang

Kompas Cyber Media,

Selasa, 06 Maret 2007 – 13:18 wib

Endang Rukmana, “Sakit 1/2 Jiwa” Cetak Ulang Keempat

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

DEPOK, KOMPAS–Penulis novel populer tentang dunia cowok, Endang Rukmana, mendulang sukses dari novelnya bertajuk “Sakit 1/2 Jiwa” yang sudah cetak ulang keempat dalam waktu delapan bulan.

“Sakit 1/2 Jiwa” yang diterbitkan oleh Gagas Media Jakarta merupakan komedi petualangan seorang mahasiswa di Jakarta dengan setting di daerah Baduy dan Banten. Banyaknya pembaca suka dengan novel Endang antara lain karena isinya lebih pada komedi petualangan.

endang gayaEndang Rukmana (23) mahasiwa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia angkatan 2004, sudah menulis lima novel, semuanya diterbitkan Gagas Media. Selain “Sakit 1/2 Jiwa”, empat novel lainnya adalah “Gotcha” (novel adaptasi dari film Indonesia), “Blackforest Blossom!” (komedi cinta), “Cium Aku Lagi, Please!” (candy romance) dan “Pahe Telecinta” (komedi cinta dari kisah sejati).

Endang Rukmana pernah meraih “Unicef Award for Indonesian Young Writers 2004”. Dia menganggap guru menulisnya adalah Gola Gong dan Toto ST Radik, dua penulis asal Banten.

Obsesinya adalah memiki kafe dan resto dengan sajian menu yang unik dan fasilitas hotspot dan desain tempat nongkrong yang oke. “Sehingga saya bisa menulis novel di kafe sendiri,” kata Endang Rukmana dalam acara “Talk Show Penulisan” bertema Start Now or Never!” yang digelar Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia, Selasa.

Dalam acara itu, selain Endang Rukmana, juga tampil sebagai pembicara adalah Olansons Girsang (pemenang Penulisan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau PIMNAS 2005 dan 2006) dan Adhi Kusumaputra (Kompas) dengan moderator Hasyim, mahasiswa FISIP UI.

Acara ini bertujuan mengajak mahasiswa UI untuk aktif dan giat menulis.

Endang Rukmana: dari Nasi Uduk sampai Novel Komedi-Fantasi

oleh Melody Violine

Saya masih ingat pertama kali saya bertemu dengan Endang Rukmana, penulis yang akhir bulan ini novel kelimanya diterbitkan. Kalau tidak salah, tempatnya di lantai 2 Gedung IV fakultas kami, FIB UI. Waktu itu perut saya keroncongan, tapi masih ada satu kelas sebelum jam istirahat makan siang.

Alhasil, saya panggillah Endang, “Mas.” Endang yang sudah hendak turun tangga bersama “buntelan” nasi uduknya langsung berbalik dan menawari saya (juga teman sekelas yang kebetulan sama-sama terancam punah) barang dagangannya.

“Mau beli apa? Ada nasi uduk, nasi goreng, mi goreng…” kata Endang dengan nada dan intonasi khas pedagang—cepat dan mengundang.
Saya pun masuk ke dalam kelas untuk menikmati nasi itu. Teman sekelas saya yang lain kira-kira berkata begini pada saya, “Itu kan tadi Mas Endang, Mel. Mas Endang hebat banget lho, berjuang bayar uang kuliah sendiri. Subhanallah…”

Endang semester 3

Endang semester 3

Itu terjadi sekitar setahun yang lalu, semester genap 2005/2006. Saya masih di tingkat pertama sedangkan Endang kedua. Sejak saat itu, saya sering membeli nasi atau snack yang Endang jual dengan niat “membantu teman bayar kuliah”.

Semangat juang Endang begitu menyilaukan. Ini anak bakat tajir, begitu batin saya setiap kali melihat Endang. Semula saya mengira Endang akan sukses di bidang bisnis. Makanya saya agak kaget ketika seusai UAS semester itu, Endang menghampiri saya sambil memamerkan (sekaligus membujuk saya untuk membeli) novel perdananya, Sakit ½ Jiwa, yang baru saja diterbitkan oleh GagasMedia.

Untunglah waktu itu novel perdana saya juga sudah positif terbit walaupun masih harus menunggu satu bulan lagi. Melihat novel perdana Endang itu, saya jadi tidak iri dan bisa berkata, “Novel saya juga bulan depan terbit.”

Ternyata saya hanya bisa sebentar saja merasa begitu. Sakit ½ Jiwa menjadi best-seller sementara novel saya… boro-boro deh. Dalam waktu singkat, Endang juga menerbitkan novel kedua dan ketiganya. Saya jadi iri? Itu sudah pasti. Hanya saja, rasa iri yang satu ini tidak berkonotasi negatif atau sirik, melainkan menjadi dorongan bagi saya untuk terus berkarya.

Setiap kali ada perkembangan perihal karir kepenulisannya, Endang pasti menyempatkan diri untuk menceritakannya pada teman-temannya, termasuk saya. Caranya bercerita selalu menggebu-gebu, tapi entah kenapa tidak pernah timbul kesan pamer. Inilah yang membuat saya tidak pernah sirik padanya.

Ketika pagi ini saya bertemu Endang untuk mewawancarainya, Endang tampak agak kuyu karena kurang tidur. “Lagi ngejar deadline, Ndang?” tebak saya. Sambil mesem-mesem, Endang berkata bahwa dia baru saja maraton menonton DVD dan hanya sempat tidur sejam sebelum berangkat kuliah.

Sebelum wawancara, saya tunggui dia makan brownies dan nasi uduk (beli di kopma FIB UI karena, sejak menerbitkan novel perdananya, Endang berhenti berjualan nasi uduk). Meskipun cerewet dan jauh dari macho, Endang tetaplah cowok. Cowok tidak bisa melakukan lebih dari satu kegiatan—dalam kasus ini, wawancara sekaligus makan—dalam waktu bersamaan.

Endang bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya yang penuh cobaan dan bagaimana dia berjuang untuk survive, tidak sekadar untuk makan, tapi juga untuk melanjutkan pendidikan. Cerita ini juga akan selalu menjadi dorongan bagi saya, kali ini untuk berjuang menghadapi segala cobaan hidup.

Akan tetapi, saya kurang tertarik untuk membahas perjuangan hidup Endang dalam artikel ini. Selain karena cerita ini sudah pernah diangkat dalam media lain, sebagai sesama novelis, saya lebih suka mengulik Endang sebagai novelis.

Mewakili Suara Cowok
“Gue pengen bikin novel yang cowok banget nih,” kata Endang dengan mantap. Untuk saat ini, misi Endang dalam menulis novel memang mewakili suara cowok. “Cowok kan gagu sebenarnya… gua mewakili cowok untuk berbicara, memperkenalkan tentang dunia cowok, idealisme cowok…”

Endang ingin mengembangkan genre Ladlit. Genre Ladlit dianggapnya masih terjajah oleh karakter cewek. Endang sendiri merasakannya betul ketika novel kelimanya, Pahe Telecinta, diedit. Banyak kata-kata khas cowok (nyablak dan cenderung kasar) yang disensor supaya tidak menyinggung perasaan cewek. Padahal, menurut Endang, ini merupakan pembunuhan karakter cowok dalam novelnya karena kekhasan-kekhasan cowok jadi sulit dimunculkan.

Cewek sudah punya banyak media sebagai penyalur aspirasinya. Di GagasMedia sendiri, ada seri Kamar Cewek dan Candy Romance. Suara hati, idealisme, pola pikir, karakter, dan kekhasan-kekhasan cewek dengan bebas tertuang di dalamnya. Kenapa hal yang sama tidak dapat berlaku bagi cowok? Inilah yang sedang Endang perjuangkan.


Membuat Inovasi dalam Sastra Populer

Imam Tantowi, seorang sutradara ternama, pernah berkata, “Jadilah kepala, karena kepala bisa makan.” Nampaknya, Endang juga mulai memegang prinsip yang sama. Endang melakukan penyesuaian antara visinya, menjadikan karya-karyanya Sastra Populer yang dapat diterima oleh semua orang, dengan prinsip ini.

Motif utama Endang untuk menulis adalah ekonomi. Tidak heran jika sebelum ini Endang menyanggupi apa pun pesanan GagasMedia, termasuk untuk menggarap novel adaptasi dan Candy Romance yang berjudul Cium Aku Lagi, Plisss! (Endang sampai menggunakan nama samaran karena novel ini “bukan Endang banget”).

Ketika ditanyakan apakah dia ingin terus bertahan di sastra populer atau mencoba ke Sastra yang lebih serius, Endang menjawab, “Biarkan wacana itu mengalir, gua nggak ingin meniatkan untuk serius.”

Namun, Endang juga tidak mau selalu menjadi ekor. Dia ingin membuat terobosan baru, yaitu inovasi dalam sastra populer itu sendiri. Novel terbaru yang sedang digarapnya bergenre komedi-fantasi, yaitu petualangan bajak laut dengan memanfaatkan latar belakangnya sebagai mahasiswa Program Studi Sejarah.

Genre ini memang sudah pernah dicoba untuk diangkat oleh penulis lain, tapi tidak berhasil karena komedinya kurang tergali. Bagaimana caranya supaya genre ini bisa diterima oleh pembaca Indonesia dan laris sehingga bisa masuk ke dalam wacana sastra populer? Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Endang. Kita tunggu saja aksi Endang selanjutnya!

April 2007

Endang Rukmana: Keluar dari Kemiskinan Lewat Prestasi

oleh Maulana Wahid Fauzi *)

(tulisan ini disalin dari RumahDunia)

PENGANTAR: Endang Rukmana adalah anggota Rumah Dunia, yang aktif di “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan pertama (2003). Cerpennya “Tawa Menikam Tangis (dengan nama Pena Qorie Lawa) tergabug dalam antoloji 10 cerpenis Rumah Dunia; Kacamata Sidik (Penerbit Senayan Abadi)). Sekarang dia kuliah di Universitas Indonesia, Depok, jurusan Sejarah. Mari kita mengenal lebih jauh siapa dia.

SPESIALIS LOMBA:
Pekan-pekan ini seorang pelajar Serang lagi jadi buah bibir dimana-mana. Tak kurang dari belasan media cetak nasional menurunkan berita prestasi yang diraihnya. Metro TV bahkan menurunkan wawancara dengannya, live di acara Lunch Break edisi Selasa (18/5). Seperti tak mau ketinggalan, SCTV besok menurunkan liputan lengkap sang remaja dari sisi keseharian.

Ia adalah Endang Rukmana (20), pelajar kelas 3 IPS 3 SMAN I Serang, kelahiran Jakarta 15 Mei 1984, yang juga anggota Rumah Dunia dan Sanggar Sastra Serang. Di ultahnya yang ke-20, Endang dapat kado istimewa dengan meraih anugerah “Unicef Award For Indonesian Young Writers” plus uang senilai Rp 5 juta. Itu berkat esainya yang berjudul “Siapa Pewaris Sah Republik Ini” di Lomba Esai Remaja garapan YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) dengan sponsor mentereng Unicef (United Nations Children’s Fund). Bagi Endang ini adalah pencapaian paling prestius dari sekian prestasi lain yang diraihnya. “Sudah sekitar 10 esai yang saya ikutkan lomba. Setengahnya selalu mendapat predikat,” tutur Endang tanpa kesan menyombongkan diri.

Jika Aku Jadi Presiden

Jika Aku Jadi Presiden

Esai pertamanya yang jadi juara, diraih selagi duduk di kelas 2. “Ajangnya Lomba Karya Tulis Non Fiksi 2002 SLTA tingkat Nasional oleh Balitbang Depag RI. Saya dapat juara 2, hadiahnya 6 juta rupiah,” jelas Endang. Tapi bagi pengidola Gunawan Muhammad ini, pengalaman paling menyenangkan adalah saat jadi finalis (10 besar) Lomba Menulis Esai SMA Se-Indonesia “Andai Aku Jadi Presiden…” bulan April lalu. “Hadiahnya 2 juta perak plus perlengkapan sekolah,” cetusnya sumringah, “Tapi saat diundangnya itu yang berkesan.” Bagaimana tidak, cerita Endang, ia bareng 9 finalis lainnya nginep gratis di hotel, diajak jalan-jalan ke TMII, Sea World, Ancol, Metro TV, dan yang paling seru, setiap malam ngejajal kafe-kafe top di Jakarta. “Seru banget!” katanya lagi.

BERANGKAT DARI KELUARGA TAK MAMPU:
Endang sulung dari 4 bersaudara putra Hasanuddin dan Wartih. Keluarganya dulu tinggal di Rawa Bebek Cakung Jaktim. Dari kecil ia sudah kehilangan ayah yang tak ketahuan kemana rimbanya. “Sudah hampir 8 tahun, saya nggak tahu keberadaannya,” cetus Endang lirih. Ibunya lah yang lantas banting tulang mencari nafkah. Makanya kemiskinan bukan hal yang aneh buat Endang.

“Hidup keluarga saya memang sengsara, jadi kenapa saya harus malu,” katanya datar. Sebagai lelaki sulung, ia terlecut membantu mencari nafkah. “SMP kelas 2 saya kerja di pabrik plastik. Gajinya 7000 perak sehari. Yang 5000 buat makan, sisanya buat ibu,” cerita Endang. Di situ ia hanya tahan 1 bulan, “Kerjanya berat, ia suka sakit, jadi saya suruh berhenti,” tutur Wartih (37), ibunya yang nemenin saat ngobrol bareng RY (Radar Yunior). Sejak itu Endang kerja apa saja. “Jadi pemikul, ngaduk semen, loper koran, apa ajalah,” katanya mengenang. Sekolah Endang praktis tersendat. Selain kerja, kendala lain adalah SPP yang tak terbayar. “Dia sempet sebulan nggak sekolah,” kata Wartih lagi.

PINDAH KE PADARINCANG, BANTEN

Kerusuhan Mei ‘98 menuntaskan puncak kegalauan Wartih hidup di Jakarta. Ia lalu memutuskan pindah ke Padarincang. Alasannya juga sederhana, “Karena ajakan tetangga,” tuturnya. Di sini Endang balik menjadi kelas 1 lagi di MTsN Model Padarincang. “Itulah makanya umur Endang 20, tapi masih SMA,” kata Endang tertawa.

Tapi nasib sepertinya belum berpihak. Getirnya hidup masih menaungi Endang sekeluarga. Tahun 2000 ibunya memutuskan berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW. Endang dan Eka adiknya, “tinggal” di sekolah dengan jadi pengurus koperasi. Dua adiknya yang lain, Yunus dan Niken, dititipkan pada tetangga. “Saya sudah kehabisan akal mau gimana lagi,” begitu alasan Wartih, “Bayangin, dulu itu buat makan aja sampai harus jual mangkuk, sendok atau peralatan lainnya.”

Namun uang bulanan yang dikirim Wartih dari Arab hanya cukup buat nafkah kedua anak terkecil yang dititipkan. Jadilah Endang dan Eka harus berjuang menghidupi diri mereka sendiri. “Di Padarincang 1,5 tahun, kita berdua kerja apa saja buat cari uang,” ceritanya penuh semangat, “Kita menyebutnya barat dan timur. Saya ke timur, Eka ke barat.” Kerjaanya tak tetap. Nyangkul, ngarit, ngangkut galon, atau gawe serabutan lainnya dilakoni kakak beradik ini. “Pernah kami hanya makan singkong selama sebulan. Dapet nasi tuh kalo ada yang nawarin,” tuturnya tulus.

MENGENAL S3 DAN RUMAH DUNIA:
Lulus dari Tsanawiyah, berbekal NEM 42,07, Endang mencoba masuk ke SMAN I Serang. Uang pangkal sebesar 1 juta rupiah tak menghalanginya. “Modal nekat aja, waktu itu tabungan saya ada 200 ribu-an.” Tapi untunglah, Zeinuddin Zey BA yang saat itu jadi kepsek mau mengerti kondisi Endang. Lewat kebijakkannya Endang masuk SMAN 1 tanpa keluar uang sepeserpun. “Tolong tulisin terimakasih saya buat beliau ya kak,” pinta Endang. Hal sama dicetuskannya pada H Babay Muzakir dan Hj Lies di Cipare, suami istri yang menerima Endang sebagai anak asuh dari kelas 1 hingga kelas 2. “Segala keperluan sekolah saya dipenuhi. Bahkan setiap hari saya diberi uang jajan.” Endang mengenang.

Dunia menulis mulai dirambahnya awal tahun 2001, saat bergabung di Sanggar Sastra Serang (S3) asuhan penyair dan penulis Toto ST Radik. Di sanggar ini lah bakat menulis Endang ditempa. Apalagi saat S3 boyongan ke Rumah Dunia (RD) milik penulis Gola Gong. Aktif di kelas menulis, bareng remaja berbakat lainnya, membuat bakat menulis Endang makin terasah. Lalu mulailah ia meraih prestasi dari esai-esai yang diikutkannya dalam lomba. “Idenya dari keseharian. Kalo soal lomba, saya selalu cari atau dikasih tau temen,” jelas Endang. Honor dari tulisan yang dikirim ke koran pun mulai ia dapat.

Tahun 2002 segala sesuatu mulai membaik bagi Endang sekeluarga. Ibunya mengontrakkan sebuah tempat untuk warung sekaligus rumah di daerah Kaujon. Endang yang waktu itu masih jadi anak asuh, Eka di Padarincang dan Yunus serta Niken yang dititipkan, “ditarik” untuk hidup bersama lagi. “Nah, hadiah yang 6 juta dulu, saya belikan becak 3 buat usaha di situ,” kata Endang. Sepulang Wartih dari TKW pertengahan 2003, warung dan becak itulah yang menghidupi keluarganya. “Umplek-umplekan berlima di sini,” cetus Endang menunjuk ruang belakang warungnya yang sempit.

Awal 2004, Wartih dinikahi Buchori (48), wirawasta dan duda yang “terkesan” oleh perjuangan ibu dan empat anaknya ini. Sekarang mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang lebih luas. “Saya sih tetep nungguin warung, kalo Endang mah sekarang sibuk baca terus,” senyum Wartih, “Tapi tak apa, kalo itu buat kemajuannya.” Ditanya perasaannya saat nonton Endang di tivi, sambil tersenyum Wartih menjawab pendek, “Cuma nangis aja…”

Eh, hadiah yang 5 jutanya buat apa? “Buat kuliah dong!” jawab Endang cepat disambut anggukan ibunya. Begitulah, seperti kata Endang mengutip moto S3, “….dan aku di sini berbahagia.” (ujay)

========================================== BOKS:

BAHKAN MENTERI, LANGSUNG DIKRITIKNYA!!

Saat presentasi esainya yang jadi dapet “Unicef Award For Indonesian Young Writers” Senin (17/5) lalu, Endang bikin semua orang terkejut. Gimana nggak, pada Menteri Pendidikan Malik Fadjar yang juga hadir, Endang mengkritik kebijakkannya. “Saya mengambil contoh Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa,” cerita Endang, “Nah kata “Taman” itu konotasinya akrab dan “merangkul” anak, sementara Pak Menteri dengan kebijakkan nilai standar UAN 4,01 itu malah menyambut anak dengan ketegangan, bukannya merangkul.”

Pak Menteri yang merasa jengah dikritik, dalam sambutannya langsung meng-kick balik. “Gini nih,” tiru Endang tersenyum kecut, “Saya bangga dengan prestasi yang diraih 2 pelajar kita. Sayang yang kedua (maksudnya Endang) sudah terpolusi!”. Saat jumpa pers, wartawan yang hadir terus membahas soal ini. Endang dianggap terpolusi suara-suara minor. “Suara minor itu buat saya penting. Karena diperlukan buat menemukan apa-apa yang harus dibenahi,” sergahnya, “Kalopun saya terpolusi, itu karena bacaan dan realita di sekitar saya.”

Menurut Toto ST Radik, “suhu”nya di S3, Endang memang punya kekuatan di esai. Meski, “Puisi dan tulisan fiksinya juga lumayan.” Namun kata Toto, dalam esai, Endang lebih meledak-ledak, “Ia sangat emosional, itu karena latar belakang kehidupannya. Tapi, setahun ini, emosinya sudah lebih terkendali,” jelas Toto. Endang juga, lanjutnya, punya feeling bagus dalam memilih tema esai yang nggak umum, “Ia tak pernah takut tema yang diambilnya tidak disukai orang lain.”

Presentasi

Presentasi

Ditanya tentang reaksi pejabat di sini atas prestasinya, Endang cuma tersenyum, “Belum ada tanggapan apa-apa dari siapa-siapa tuh.” Yang lucu, tanggal 14 yang lalu, saat Ibu Wagub Atut Chosiyah meninjau pelaksanaan UAN di sekolahnya, Endang dikenalkan oleh pak Ujang kepseknya. Wagub tentu terkesan saat tau ada yang siswa daerahnya yang dapet penghargaan sekelas Unicef Award. Nah, pejabat Dindik Banten yang menyertai Wagub dalam kunjungan itu pendek saja bilang, “Nanti hubungi saya ya…” Karena Endang nggak menghubungi, sampe saat keberangkatannya ke Jakarta Senin (17/5) buat nerima award itu, perhatian bahkan kontak dari pejabat tadi jadinya tetep nihil.

Seperti diungkap Toto, ketidakpedulian mereka (pejabat Dindik), bukanlah hal aneh. “Dari dulu saya sering memberitahu siswa S3 yang berbakat dan berprestasi. Tanggapan langsung sih menjanjikan. Tapi semuanya hanya lips service.” Analisa Toto, itu karena manusia masih dipandang sebagai obyek. “Kalo urusan barang, sarana, dan fasilitas, barulah jadi perhatian serius mereka,” senyumnya, “Manusia mana bisa dijadikan proyek!” Serunya getir. (ujay)

*) Penulis adalah karikaturis dan pengasuh suplemen “Radar Yunior” di Harian Radar Banten.

Endang Rukmana: Menjadi Kaya Karena Menulis

oleh Aji Setiakarya

Minggu (17/6) lelaki bertubuh tinggi datang ke Rumah Dunia. Dibelakangnnya menggendong tas, terlihat berat. Awalnya sedikit terkecoh dengan penampilan yang berbeda dengan dua tahun yang lalu, saat ia masih memakai seragam abu-abu, masih terlihat sederhana dan apa adanya. Kini lelaki itu memakai baju bermerak dengan penampilan yang oke punya. Hanya jalannya saja yang mampu dikenali dari lelaki ini. Dia adalah Endang Rukmana atau dulu pernah memakai nama pena Qori Lawa dalam setiap menulis sajak-sajaknya.

foto endang 3Endang datang ke Rumah Dunia dengan membawa kejutan lagi. Dia membawa sebuah novelnya yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Gagas Media. Judul buku terbarunya itu adalah Cinta Telepahe. “Ini yang ke lima,” ungkapnya saat bercerita tentang novelnya itu. Endang memang fenomenal. Dia pengarang muda yang bisa dibilang produktif. Selama kurun waktu dua tahun, ia berhasil melahirkan 5 buah buku. Tiga diantaranya diangkat berdasarkan skenario. Dua yang lainnya adalah hasil dari ide cerita dirinya.

Lelaki yang mengambil studi jurusan Sejarah ini adalah angkatan pertama kelas menulis di Rumah Dunia, asuhan Gola Gong. Selama sekolah di SMAN I Serang dia siswa yang sangat rajin datang ke Rumah Dunia. Hampir setiap ada acara Temu Pengarang dan Klub Diskusi Rumah Dunia yang diadakan Sabtu siang, lelaki lulusan MTSN Padarincang ini pasti nongol ke RD dengan rekan sekolahnya, Aad Adkhilni, penulis dan kuliah di Hubungan Internasiona UGM.

Sebelum dia tiba ke Rumah Dunia, biasanya terlebih dulu datang ke rumah Toto St Radik, pendiri Sanggar Sastra Serang (S3), waktu itu di sini ada Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI), kerjasama S3 (S3) dan Horison. Kegiatan itu dilakukannya tidak hanya akhir pekan. Saat ada moment luang, ia sangat sering datang ke dua tempat ini. Kini Endang sudah mulai menuai perjuangan itu. Dia sudah menjadi ikon penulis muda Indonesia di genre sastra popular. Dari menulisnya itu, dia telah memiliki apa yang tidak dimilikinya saat SMA dulu.

Buku Endang yang pertama Lelaki ½ Jiwa sudah dicetak dua kali. Total Royalti yang sudah diperoleh 56 juta. Hasil dari royalti itu tidak disia-siaknnya. Sebagai modal dasar untuk terus menulis ia menyisihkan uang untuk membeli laptop yang bermerk. Tidak tanggung-tanggung, laptop yang dibelinya adalah merk Acer Ferrari yang speknya sudah diatas 2 Giga. Keputusan Endang untuk membeli Acer yang seharga 13,5 Juta itu bukan berarti Endang kelebihan uang. “Tapi saya senang dengan logo Ferarri, yaitu kuda yang bisa memberi semangat pada diri saya. Saya seperti halnya dengan laptop ini harus kuat, bandel ‘strong-strong’ terus berkarya,” katanya bercerita. Endang bisa dibilang orang yang kaya dari menulis. Hal itu dirasakan oleh Endang, kemampuan menulis yang dimilikinya membawa kepada perubahan finanssial yang lebih baik.

Mengembangkan Komedia Fantasi Kesuksesan lima novelnya tidak membuat dirinya berpangku tangan. Saat ini Endang mengaku sedang mengembangkan cerita dengan genre fantasi komedi yang dianggapnya belum pernah digarap oleh pengarang-pengarang sebelumnya. Lelaki yang pernah menjadi bos becak ini menungkapkan optimis karya ini bisa disukai oleh pembaca.”Saya akan menggunakan latar budaya Indonesia, seperti batak, padang, Sunda dan suku-suku yang ada di Indonesia untuk membuat suasana lebih hidup,” kata Endang lagi. Hal itulah yang mendorong dirinya akhir-akhir ini pergi untuk melakukan surver ke beberapa daerah yang menjadi kantong-kantong suku tadi.

Lalu bagaimana dengan kuliahnya?. Di tengah produktivitasnya itu, lelaki peraih Unicef Young Writer Award 2004 ini ternyata mulai ragu dengan studi yang diambilnya. “Bukan berarti saya nggak semangat kuliah,” kata Endang lagi. Ia merasa, semangat idealisme untuk mengambil program tudi Sejarah yang muncul saat ia SMA dulu kini sudah lebur. Dirinya tidak lagi ingin menjadi Sejarawan tulen yang pernah diinginkannya sejak SMA dulu. “Sekarang ambisi untuk ke Leiden mengambil S.2 sejarah hilang. Yang ada di pikiran saya saat ini, membuat novel dengan kekuatan sejarah yang kental,” kata Endang. Endang memohon do’a agar niatnya itu terkabulkan. (setiakarya/rdnet).

(tulisan ini juga bisa dilihat di http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=904)