Juragan, saya buka lapak again…
Bantuin jual hape punya adik. Hape walkman generasi pertama yg legendaries SE W550i (yg model swing itu lho, seperti kakaknya w900i) lengkap (dus, charger, handsfree, kabal data, cd, buku manual, bon pembelian). Fungsi & daya tahan batere masih normal. Kondisi body sekitar 85% (sedikit baret wajar pemakaian, yg lainnnya kokoh).

Fitur dan Keunggulan: bentuk unik, swing (hanya w550i dan w900i hape SE yg seperti ini), bluetooth, kamera 1,3 mp, memory internal 256mb, dual stereo speaker, megabass lengkap dengan handsfree bassrefleksnya yang jedug jedug aye ajib dah, hehee.

Kekurangan: tidak tersedia slot untuk ekspansi memory. Jadi kita hrs puas dgn 256mb internal memorynya. Cukup buat save puluhan lagu.

Harga damai Rp500ribu saja. Hubungi: 08814070151

COD di Jakarta atau Depok tanggal 8 Januari sekalian saya ke kampus. COD di kota Serang standby setiap hari. Spesifikasi lengkap & photo hapenya mangga di-googling. Tangkyuh alot. CU di lapak-lapak saya berikutnyah! B-)

Salam gogodoh haneut keneh,
Endang Rukmana

Buat yg minat, mau dijual LG GM200, lengkap, mulus 99,99%, garansi msh 11 bulan, plus saya bonusin micro SD v-gen 1gb dan hape esia wifone yg nganggur di rumah. Harga damai Rp 750ribu,-.
Iini spek LG GM200-nya:

CandyBar

Dimensi
106 x 48 x 14.4 mm

Berat
85 g

Layar
176 x 220 pixels, 2.0 inches

Warna layar
TFT, 256K colors

Warna Hp
Black, Silver, Gold (GM200); Black, Red (GM205), punya saya yang Black

Ringtone
Tipe
Polyphonic, MP3 ringtones

Getar
Ya

Download

Dolby Sound Technology

Memory
Internal
14 MB

Slot
microSD (TransFlash), up to 2GB

Koneksi
GPRS
Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 – 48 kbps

HSCSD
Tdk

EDGE
Class 10, 236.8 kbps

3G
Tdk

Wifi
Tdk

Bluetooth
Ya, v2.0 with A2DP

USB
Ya, v2.0

Fitur
O.S.
-

Message
SMS, MMS, Email

Browser
WAP 2.0/xHTML

Game
Sudoku Puzzle, ZooZooClub

Kamera
2 MP, 1600×1200 pixels, video QCIF@15fps

Fitur lain
- FM radio with RDS, built-in antenna
- Java, MIDP 2.0
- Dolby Surround Sound Technology
- 3 speakers (two stereo speakers + one woofer)
- 3.5mm Audio jack
- MPEG4/H.263 player
- MP3/AAC/AAC+/AAC++/WMA/AMR/MIDI player
- Organizer
- Smart Profiling through noise sensor
- T9

Baterai
Tipe
Standard battery, Li-Po 1100 mAh

Siaga
450 jam

Bicara
8 jam 24 menit

untuk gambar hapenya googling z yah
NB: kelebihan utama hape ini ada di speakernya yang maknyos, dua speaker plus satu woofer, & pake teknlogi tata suara dolby mobile. baterenya juga dah mayan gede, 1100 mah, jadi bis tahan digeber online & musik seharian. kalau pemakainan normal bisa 2 smp 3 hari. Fitur yg lain biasa saja. Yang serius minat hubungi saya di 08176737334
Thanks. CU All di lapak2 gue berikutnya B-)

Salam gogodoh haneut keneh,
Endang Rukmana

Oleh: endangrukmana | 7 Januari 2010

2010

Di awal 2010 ini, Endang akan berkiprah kembali dengan skripsinya, hehehe, tapi tetep nulis novel kok, termasuk novel ketiganya Toilet Saga. Doakeun ya!

Oleh: endangrukmana | 7 Januari 2010

Lomba Resensi buku HUSH HUSH karya BECCA FITZPATRICK

paling lambat 15 April 2010

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di nyanyianbahasa.

Oleh: endangrukmana | 18 Oktober 2009

Polling, Polling! Ayo Diisi ;-D

Oleh: endangrukmana | 17 Oktober 2009

Lomba

Mau nyaingin Endang? Coba menangin lomba-lomba ini dulu :D

Falasido 2009 <—- klik di sini

Lomba Mendongeng

Lomba Menulis Cerpen

Lomba Musikalisasi Puisi

Oleh: endangrukmana | 16 Oktober 2009

Belajar Menjadi Lelaki Dari Balada Si Roy

ROY, AJARI AKU!

Catatan ringan Oleh Endang Rukmana*)

endang duduk“Mau avounturir, kayak Si Roy!” ujar Zhajang.
Maka suatu pagi di kota Serang, Zhajang Lili Charli sudah nangkring di atas sepeda yang baru kemarin dia beli dari pasar loak. Bersama Adkhilni MS, yang juga sudah siap dengan sepeda kesayangannya, Zhajang akan bersepeda menempuh jarak sekitar 40 km menuju kawasan pantai di Selat Sunda. Mereka bermalam di pantai. Kedua kawan sekolah saya itu bercerita, baru saja menamatkan empat jilid Balada Si Roy. Akibatnya, mereka terjangkiti demam avounturir.

Saya jadi penasaran. Lalu mulailah saya berkenalan dengan “Si Roy” lewat kesepuluh jilid “Balada Si Roy” (karya Gola Gong yang pernah beken di majalah HAI). “Gawat brew!” seru batin saya, ketika menyadari roh dan spirit “Si Roy” seolah telah merasuki diri saya.

Sejak saat itu saya jadi senang melakukan perjalanan, dan begitu menikmatinya. Acap kali saya merasa diri tengah berperan sebagai Si Roy. Seperti beberapa waktu yang lalu di awal Juli, ketika saya menempuh perjalanan Serang-Bandung untuk suatu keperluan. Saya berangkat tengah malam dari Terminal Pakupatan dengan Garuda Pribumi, sebuah bus tak ber-AC.

Mulanya saya duduk seorang diri. Tetapi menjelang Balaraja, seorang gadis memilih untuk jadi teman seperjalanan saya. Dalam hati saya berbisik, “Cewek, Roy!”. Tak perlu saya ceritakan apa yang selanjutnya terjadi dengan kami berdua. Selama dua hari di Bandung, saya juga mengalami hal-hal baru yang menarik—terlalu makan halaman jika saya tuturkan. Lalu ketika pulang lagi ke Serang dari Terminal Leuwipanjang, lagi-lagi seorang gadis menjadi teman seperjalanan saya. Dan yang membuat lebih dramatis, di tengah perjalanan, gadis itu menangis terisak. “Ada cewek cantik nangis, Roy! Kenapa dia, Roy?” saya berbisik lagi.
Begitulah.

Si Roy, pemuda petualang, bertubuh atletis, rambut gondrong, rahang kukuh; dengan senyum nakal; dan sorot mata yang liar melebihi elang, tetapi di lain waktu sorot mata itu begitu sendu dan teduh seolah lautan; memang memilki daya pukau tersendiri bagi remaja di penghujung era 80-an saat itu. Sebab bukan hanya fisiknya, tetapi karakter dan langkah hidup yang ditempuh Si Roy memang macho! Terlebih—nampaknya—Si Roy benar-benar lahir dari pergolakan batin sang pengarang. Yang lahir dari hati, memang akan mendapat tempat di hati.

Hal lain yang perlu kita garis bawahi dari Si Roy, pada dirinyalah manusia dihadirkan secara utuh; tidak melulu putih, juga tidak melulu hitam. Dia berada di wilayah abu-abu. Berbuat dosa, lalu bertobat; berbuat dosa lagi, lalu bertobat lagi; dan begitu seterusnya. Sejujurnya, seperti itulah manusia. Saya mengiyakan, dan berkaca diri, saat membaca “Balada Si Roy”.

Jangan kaget, dalam kisah ini “Si Roy” begitu gampang bersinggungan intim dengan banyak perempuan, sehingga kita seolah mendapat kesan “Si Roy” adalah lelaki yang suka mempermainkan perasaan kaum Hawa. Namun kesan yang demikian akan segera menjadi kabur, saat kita pada kesempatan yang lain mendapati “Si Roy” begitu peduli, melindungi seorang ibu muda yang terancam kehilangan anaknya. Si Roy juga seorang anak yang sangat perhatian, hormat, serta penuh cinta dan kasih sayang pada ibunya. Wacana yang kontras, akan kita temukan dalam kisah ini.

Kini, setelah zaman bergulir menjauh, Roy hendak dihadirkan kembali. Hadir di era yang baru, di mana sebagian besar orang tengah larut menikmati euforia menyambut pergantian milenium. Ketika makhluk bernama internet dan ponsel sudah menjadi bagian lumrah dari kehidupan remaja ABG Indonesia.

Tentu saja “Si Roy” bukan anak zamannya lagi. Dia datang dari masa lampau. Lalu dengan demikian, apa fungsi sosial dihadirkannya kembali Balada Si Roy bagi kehidupan remaja saat ini?

Dari segi latar tempat dan waktu, Balada “Si Roy” boleh jadi sudah ketinggalan kereta. Tetapi problematika remaja dan semangat yang dimiliki “Si Roy”, masih sangat relevan, bahkan sedemikian dekatnya dengan apa yang dialami remaja saat ini.

Dalam hal ini, “Si Roy” datang dari masa lampau dengan membawa sebuah cermin bagi remaja Indonesia yang kini mulai tenggelam dalam hingar-bingar kehidupan hedonis. Bukan cermin sakti semacam kepunyaan Mak Lampir yang saya maksud. Tetapi sebuah cermin untuk belajar bagaimana semestinya menyikapi hidup; menentukan langkah; mencari jati diri; juga untuk memahami, bagaimana semestinya menjadi lelaki.

Menjadi lelaki bukan berarti harus sok jago, berkelahi, menganggap remeh orang lain, atau bergelandangan di jalanan. Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki; berani untuk mengalahkan rasa takut dan “gak pe’de”; berani untuk berbuat dengan akal sehat, dan berani pula untuk mempertanggungjawabkannya dengan kesadaran; berani untuk memulai sesuatu, dan berani pula untuk mengakhirinya dengan manis; juga berani untuk mencari, dan pada saat yang sama berani pula untuk kehilangan.

Memulai sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu, menuju ke kota-kota yang lain, dan melihat dunia baru, adalah menjadi lelaki. Hidup mandiri, tanpa melulu mengandalkan orangtua, adalah juga menjadi lelaki. Rela memberikan tempat duduk kita di atas angkutan umum yang penuh sesak kepada ibu hamil, orang cacat, dan para lansia, adalah juga menjadi lelaki. Tetap tegar dan confidence saat kehilangan sesuatu yang berharga (seperti Toni yang kehilangan sebelah kakinya, dan Iwin yang kehilangan sebelah daun telinganya), adalah juga menjadi lelaki.

“Balada Si Roy”, tidak hendak mengajarkan kita menjadi super hero seperti Old Shatterhand, James Bond, Gatot kaca, Wiro Sableng, juga tidak untuk menjadi “Si Roy”. Tetapi belajar menyikapi hidup, dan belajar menjadi lelaki, itulah yang akan kita (remaja) renungkan—dan akan kita lakukan—usai membaca buku karya Gola Gong ini. Majalah HAI pernah menulis Roy sebagai tipe “cowok jaguar”: jujur, kritis, peduli, independen, dan tetap manusawi. Dalam istilah Sheila On 7, Si Roy membagikan spirit pada kita “tuk jadi pejantan tangguh”.

Untuk cewek yang tidak ingin menjadi korban rayuan lelaki, dan untuk cowok yang hendak menjadi lelaki, “Balada Si Roy” dengan bahagia dipersembahkan. Sebagai pembaca, kita tentu akan lebih memahami bagaimana selayaknya menerapkan pepatah lama, “ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk”, tinimbang para maling sendal di tempat-tempat ibadah.

Akhirnya, saya ingin memulai sebuah langkah yang ringan, dan berkata, tidak penting untuk menjadi “Si Roy”; Namun, “how to be a man?!” itulah yang hendak dikatakan Si Roy!
Ajari aku, Roy!
***
Serang, Akhir Juli 2004
*) Penulis lahir di Jakarta 15 Mei 1984. Saat “Balada Si Roy” muncul di Majalah Hai pada Maret 1989, dia masih berumur 5 tahun. Limabelas tahun kemudian,
dia baru membaca “Balada Si Roy”. Dengan bersemangat dia bilang, “Semalam 5 buku! Sepuluh buku, dua malam!” Dia adalah peraih “Unicef Award for Indonesian Young Writers” (2004). Aktif berkegiatan di S3, SSRI Serang,
dan peserta “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan pertama.
Kini tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah UI angkatan 2004

Oleh: endangrukmana | 16 Oktober 2009

Sakit 1/2 Jiwa: Udah Lucu Mulai Kata Pengantar

Lucu Mulai Kata Pengantar


oleh  Sukar

Rabu, 12-Juli-2006, 22:44:48

Malaria boleh dilawan pakai buah bagore. Panas dalam bisa dielak dengan selasih. Tapi, sakit di hati cuma satu obatnya: tawa! Pemicu tawa bisa macam-macam. Mulai lewat menggoda si looser sampai lewat baca buku. Contoh bukunya, Sakit ½ Jiwa karya Endang Rukmana, alumnus SMAN 1 Serang tahun 2004. Pada tahun yang sama ia meraih Unicef Award For Indonesian Young Writer.

Sore itu, Senin (10/7), penuh tawa kelima bookaholic DetEksi Jawa Pos. Wajah Meyta Minggar, Afif Candra Kusuma, Yerinda Aprilia, Lukman Hakim, dan Dhani Ratnaningtyas sama-sama cerah. Buku yang dibahas memang jago mengundang tawa.

“Dari awal baca kata pengantarnya saja, aku sudah terbahak. Kocak banget si Endang Rukmana itu. Guyonannya tak habis-habis,” ulas Yerinda.

Lukman membenarkan. Guyonan konyol di Sakit ½ Jiwa bahkan membuatnya senyum-senyum sendiri. “Ceritanya lucu. Justru karena tak masuk akal, buku ini jadi punya nilai plus,” sahutnya.

Lukman kemudian mengingatkan teman-temannya soal cerita di kala kakek yang selalu muncul di mimpi Bobi mengirim SMS. “Ada-ada saja deh. Kakek yang sudah meninggal kok bisa masih bisa kirim SMS dan e-mail,” ucapnya sambil geleng-geleng.

Afif setuju. Tapi, baginya, cerita di buku yang memanfaatkan foot note ala novel Adhitya Mulya ini nggak hanya penuh imajinasi. “Banyak tebakan lucunya!” seru pelajar SMKN 11 ini.

Dhani memutar obrolan soal banyolan di buku ini ke seting cerita yang baginya luar biasa. “Aku jadi ingin melihat langsung kehidupan suku Baduy.”

“Aku juga. Aku penasaran melihat langsung ritual khusus pernikahan ala suku Baduy,” timpal Afif.

Obrolan kemudian beralih ke karakter-karakter pengisi cerita ini. “Aku paling sebal sama tokoh Bobi. Apatisnya minta ampun. Ia juga suka memainkan perasaan perempuan,” cerca Yerinda.

Dhani merasa punya perasaan sama. “Meski punya wajah ganteng kayak Tora Sudiro, aku nggak bakalan mau jadian sama dia,” katanya.

Sebagai kaum cowok, Lukman membela Bobi. “Aku suka gaya pacaran mereka. Walau saling cuek, tapi tetap mesra. Salut sama Monda yang bisa nerima Bobi walau Bobi selingkuh beberapa kali,” ujar Lukman.

“Gaya pacaranku juga mirip sama mereka. Aku pernah ngejitak pacarku di depan umum. Begitu keras sampai dilihat banyak orang. Tapi, cewekku tak marah, dia mirip Monda yang sabar,” imbuhnya. *

http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2330

Tulisan Sebelumnya »

Kategori