ROY, AJARI AKU!
Catatan ringan Oleh Endang Rukmana*)
“Mau avounturir, kayak Si Roy!” ujar Zhajang.
Maka suatu pagi di kota Serang, Zhajang Lili Charli sudah nangkring di atas sepeda yang baru kemarin dia beli dari pasar loak. Bersama Adkhilni MS, yang juga sudah siap dengan sepeda kesayangannya, Zhajang akan bersepeda menempuh jarak sekitar 40 km menuju kawasan pantai di Selat Sunda. Mereka bermalam di pantai. Kedua kawan sekolah saya itu bercerita, baru saja menamatkan empat jilid Balada Si Roy. Akibatnya, mereka terjangkiti demam avounturir.
Saya jadi penasaran. Lalu mulailah saya berkenalan dengan “Si Roy” lewat kesepuluh jilid “Balada Si Roy” (karya Gola Gong yang pernah beken di majalah HAI). “Gawat brew!” seru batin saya, ketika menyadari roh dan spirit “Si Roy” seolah telah merasuki diri saya.
Sejak saat itu saya jadi senang melakukan perjalanan, dan begitu menikmatinya. Acap kali saya merasa diri tengah berperan sebagai Si Roy. Seperti beberapa waktu yang lalu di awal Juli, ketika saya menempuh perjalanan Serang-Bandung untuk suatu keperluan. Saya berangkat tengah malam dari Terminal Pakupatan dengan Garuda Pribumi, sebuah bus tak ber-AC.
Mulanya saya duduk seorang diri. Tetapi menjelang Balaraja, seorang gadis memilih untuk jadi teman seperjalanan saya. Dalam hati saya berbisik, “Cewek, Roy!”. Tak perlu saya ceritakan apa yang selanjutnya terjadi dengan kami berdua. Selama dua hari di Bandung, saya juga mengalami hal-hal baru yang menarik—terlalu makan halaman jika saya tuturkan. Lalu ketika pulang lagi ke Serang dari Terminal Leuwipanjang, lagi-lagi seorang gadis menjadi teman seperjalanan saya. Dan yang membuat lebih dramatis, di tengah perjalanan, gadis itu menangis terisak. “Ada cewek cantik nangis, Roy! Kenapa dia, Roy?” saya berbisik lagi.
Begitulah.
Si Roy, pemuda petualang, bertubuh atletis, rambut gondrong, rahang kukuh; dengan senyum nakal; dan sorot mata yang liar melebihi elang, tetapi di lain waktu sorot mata itu begitu sendu dan teduh seolah lautan; memang memilki daya pukau tersendiri bagi remaja di penghujung era 80-an saat itu. Sebab bukan hanya fisiknya, tetapi karakter dan langkah hidup yang ditempuh Si Roy memang macho! Terlebih—nampaknya—Si Roy benar-benar lahir dari pergolakan batin sang pengarang. Yang lahir dari hati, memang akan mendapat tempat di hati.
Hal lain yang perlu kita garis bawahi dari Si Roy, pada dirinyalah manusia dihadirkan secara utuh; tidak melulu putih, juga tidak melulu hitam. Dia berada di wilayah abu-abu. Berbuat dosa, lalu bertobat; berbuat dosa lagi, lalu bertobat lagi; dan begitu seterusnya. Sejujurnya, seperti itulah manusia. Saya mengiyakan, dan berkaca diri, saat membaca “Balada Si Roy”.
Jangan kaget, dalam kisah ini “Si Roy” begitu gampang bersinggungan intim dengan banyak perempuan, sehingga kita seolah mendapat kesan “Si Roy” adalah lelaki yang suka mempermainkan perasaan kaum Hawa. Namun kesan yang demikian akan segera menjadi kabur, saat kita pada kesempatan yang lain mendapati “Si Roy” begitu peduli, melindungi seorang ibu muda yang terancam kehilangan anaknya. Si Roy juga seorang anak yang sangat perhatian, hormat, serta penuh cinta dan kasih sayang pada ibunya. Wacana yang kontras, akan kita temukan dalam kisah ini.
Kini, setelah zaman bergulir menjauh, Roy hendak dihadirkan kembali. Hadir di era yang baru, di mana sebagian besar orang tengah larut menikmati euforia menyambut pergantian milenium. Ketika makhluk bernama internet dan ponsel sudah menjadi bagian lumrah dari kehidupan remaja ABG Indonesia.
Tentu saja “Si Roy” bukan anak zamannya lagi. Dia datang dari masa lampau. Lalu dengan demikian, apa fungsi sosial dihadirkannya kembali Balada Si Roy bagi kehidupan remaja saat ini?
Dari segi latar tempat dan waktu, Balada “Si Roy” boleh jadi sudah ketinggalan kereta. Tetapi problematika remaja dan semangat yang dimiliki “Si Roy”, masih sangat relevan, bahkan sedemikian dekatnya dengan apa yang dialami remaja saat ini.
Dalam hal ini, “Si Roy” datang dari masa lampau dengan membawa sebuah cermin bagi remaja Indonesia yang kini mulai tenggelam dalam hingar-bingar kehidupan hedonis. Bukan cermin sakti semacam kepunyaan Mak Lampir yang saya maksud. Tetapi sebuah cermin untuk belajar bagaimana semestinya menyikapi hidup; menentukan langkah; mencari jati diri; juga untuk memahami, bagaimana semestinya menjadi lelaki.
Menjadi lelaki bukan berarti harus sok jago, berkelahi, menganggap remeh orang lain, atau bergelandangan di jalanan. Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki; berani untuk mengalahkan rasa takut dan “gak pe’de”; berani untuk berbuat dengan akal sehat, dan berani pula untuk mempertanggungjawabkannya dengan kesadaran; berani untuk memulai sesuatu, dan berani pula untuk mengakhirinya dengan manis; juga berani untuk mencari, dan pada saat yang sama berani pula untuk kehilangan.
Memulai sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu, menuju ke kota-kota yang lain, dan melihat dunia baru, adalah menjadi lelaki. Hidup mandiri, tanpa melulu mengandalkan orangtua, adalah juga menjadi lelaki. Rela memberikan tempat duduk kita di atas angkutan umum yang penuh sesak kepada ibu hamil, orang cacat, dan para lansia, adalah juga menjadi lelaki. Tetap tegar dan confidence saat kehilangan sesuatu yang berharga (seperti Toni yang kehilangan sebelah kakinya, dan Iwin yang kehilangan sebelah daun telinganya), adalah juga menjadi lelaki.
“Balada Si Roy”, tidak hendak mengajarkan kita menjadi super hero seperti Old Shatterhand, James Bond, Gatot kaca, Wiro Sableng, juga tidak untuk menjadi “Si Roy”. Tetapi belajar menyikapi hidup, dan belajar menjadi lelaki, itulah yang akan kita (remaja) renungkan—dan akan kita lakukan—usai membaca buku karya Gola Gong ini. Majalah HAI pernah menulis Roy sebagai tipe “cowok jaguar”: jujur, kritis, peduli, independen, dan tetap manusawi. Dalam istilah Sheila On 7, Si Roy membagikan spirit pada kita “tuk jadi pejantan tangguh”.
Untuk cewek yang tidak ingin menjadi korban rayuan lelaki, dan untuk cowok yang hendak menjadi lelaki, “Balada Si Roy” dengan bahagia dipersembahkan. Sebagai pembaca, kita tentu akan lebih memahami bagaimana selayaknya menerapkan pepatah lama, “ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk”, tinimbang para maling sendal di tempat-tempat ibadah.
Akhirnya, saya ingin memulai sebuah langkah yang ringan, dan berkata, tidak penting untuk menjadi “Si Roy”; Namun, “how to be a man?!” itulah yang hendak dikatakan Si Roy!
Ajari aku, Roy!
***
Serang, Akhir Juli 2004
*) Penulis lahir di Jakarta 15 Mei 1984. Saat “Balada Si Roy” muncul di Majalah Hai pada Maret 1989, dia masih berumur 5 tahun. Limabelas tahun kemudian,
dia baru membaca “Balada Si Roy”. Dengan bersemangat dia bilang, “Semalam 5 buku! Sepuluh buku, dua malam!” Dia adalah peraih “Unicef Award for Indonesian Young Writers” (2004). Aktif berkegiatan di S3, SSRI Serang,
dan peserta “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan pertama.
Kini tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah UI angkatan 2004